Bertetangga itu memperindah jiwa


Seumur hidup saya, yang namanya tetangga itu adalah orang yang berada di sebelah posisi kita berada, bisa sebelah rumah, sebelah meja, sebelah kursi, sebelah kamar, baik yang dikenal maupun yang tidak dikenal. Pokoknya dia ada di bagian sebelah.  Sejak saya kecil, selalu ditekankan bahwa tetangga sebelah rumah adalah lebih penting daripada keluarga yang jauh. Indoktrinasi ini membuat saya selalu mengingat tetangga-tetangga saya.

Ketika saya masih balita, saya terbiasa hanya mengenakan celana dalam tanpa baju, karena mungkin lipatan-lipatan lemak yang membuat saya selalu kepanasan jika memakai baju lengkap. Dan sewajarnya anak kecil yang selalu lari-lari ke rumah tetangga, saya pun sering nyasar ke tetangga sebelah rumah orangtua saya untuk mencari kue atau hiburan lain. Namun karena hanya berpakaian dalam, hampir setiap sore saya pulang dalam keadaan menangis karena bokong saya selalu mendapat gigitan atau cubitan gemas dari tante yang tinggal tetangga sebelah rumah. Mungkin saat itu, saya belajar, biarpun digigit atau dicubit, tetapi datangi terus, pasti dapat kue hehehe…

Ketika masih sekolah, penghuni tetangga sebelah kursi adalah saingan saya dalam memperebutkan nilai terbaik setiap ulangan. Saat itu ulangan sains sedang digelar dan soalnya sangat susah. Saya hampir menyerah dan mengeluh sambil melihat tetangga sebelah saya yang rupanya juga menghadapi masalah yang sama, dia balik menatap saya. Dan tak sadar kami berdua terlibat dalam diskusi.  Mungkin nada diskusi kami cukup mengganggu sehingga menyadarkan Sang Guru dari tidur ayamnya. Sang Guru yang terkenal killer itu hanya menguap sambil menegur santai agar kami tidak melanjutkan diskusi. Ya iyalah… Mana ada diskusi dalam ulangan? Dan didepan guru killer lagi! Pak Guru sadar mungkin hanya kami berdua yang bisa menyelesaikan soal itu.

Kemudian ketika saya kost, saya punya tetangga kamar yang membuat saya harus cepat berpikir secara dewasa. Tetangga kamar ini seorang mahasiswi S2 yang sudah berkeluarga, masih sangat cantik untuk ukuran ibu dua anak. Suami dan anak-anaknya tinggal di Ujung Pandang. Oleh karena kamarnya dan kamar saya hanya dipisahkan oleh sebuah tripleks, maka apa yang dibicarakan pasti terdengar oleh penghuni sebelahnya. Karena gaya dan pembawaannya, apapun yang dilakukan oleh mbak mahasiswi S2 ini menjadi bahan gossip hangat di kost yang semua penghuninya adalah makhluk perempuan remaja yang belum menikah. Apalagi setelah dia terlalu dekat dengan salah satu mahasiswa seangkatannya yang kebetulan sering berkunjung ke kost.

Seperti biasa di kalangan remaja, makhluk laki-laki yang bertandang termasuk si teman dekat ini dinilai oleh teman-teman kost dan semua sepakat memberinya nilai sembilan terbalik alias 6. Bahkan ada yang ekstrim menilainya lima kebawah dalam segala hal. Biasalah, remaja belasan tahun yang masih hijau dalam percintaan dan urusan perkawinan, hanya menilai dari tampak luar dan fisik. Sang Teman Dekat ini, berkaca mata tebaaal sekali, berwajah ajaib dan susah dideskripsikan, memakai vespa butut yang suka mogok, rambutnya pabrik minyak dan penampilannya lusuh. Secara kasat mata, jika dibandingkan dengan suaminya, sang teman dekat ini tidak ada apa-apanya bahkan kalah jauuuuuhh… bagaikan langit dan bumi. Sang suami, dari kacamata kami yang masih remaja hijau, berpasangan dengan mbak mahasiswi yang masih cantik, delapan hingga sembilan-lah nilainya.

Dengan kedekatannya ini, penghuni kost menduga mbak mahasiswi mempunyai affair dengan Sang Teman Dekat, tetapi tidak ada yang berani bertanya langsung. Haaaa… itu kan urusan dia. Oleh sebab itu, daripada berpikir yang tidak-tidak, saya memaksa berpikir secara dewasa, mereka hanya berteman baik, tidak lebih… apa salahnya?

Namun perkembangannya tidak selesai sampai di situ. Mereka kelihatannya semakin dekat dan sering belajar bersama di area taman, di ruang tamu bahkan kadang-kadang di kamar dengan pintu terbuka lebaaar. Saya sebagai penghuni sebelah kamar,  sering mendengar mereka berdiskusi seru terutama menjelang masa ujian. Suatu hari, ditengah malam, saya mendadak terbangun karena mendengar mbak mahasiswi ini berbicara. Sesaat saya berpikir sang teman dekat masih ada, namun langsung terbantahkan karena saya lihat jam weker menunjukkan pukul 3 pagi. Saya baru akan kembali tidur ketika saya mendengar mbak mahasiswi ini setengah merengek manja, “Mas Danu, aku cinta kamu, mas, cintaaaa…. Cintaaaaaa… jangan tinggalkan aku yaa…” Lho, bukankah si teman dekat itu bernama Danu? Saya yang pada waktu itu masih hijau dengan masalah perkawinan, langsung error… Namun karena takut berpikir lebih jauh, saya langsung ambil bantal dan menutup kuping…

Beberapa bulan setelah itu, ketika saya baru saja kembali dari liburan semester, teman-teman saya mengatakan bahwa saya sudah punya tetangga baru lagi. Saya menanyakan bagaimana si tetangga itu, mereka menjawabnya, “Lihat saja, ajaib juga tapi di posisi ekstrim yang lain lagi…” Malam itu ketika saya yang sedang belajar, saya mendengar pintu kamar tetangga membuka dan ada suara perempuan dan laki-laki terlibat dalam sebuah percakapan. Yang terdengar oleh saya adalah percakapan dalam berbagai bahasa. Ada sedikit bahasa Indonesia, kebanyakan bahasa Inggeris dan Perancis, diselingi sedikit campuran bahasa Jerman. “Wah, tetangga saya bule rupanya, mungkin anak pertukaran pelajar asing yang mondok di rumah tante pemilik rumah”, pikir saya dan hal itu menimbulkan rasa senang di hati saya. Lumayan, buat belajar bahasa. Esoknya, melalui jendela kamar, saya melihat sang tetangga baru keluar dengan tergesa-gesa, ternyata dia bukan bule, dia sama coklatnya dengan saya, sama Indonesianya. Tetapi, yang jelas dia tidak memiliki aksen dalam pengucapan bahasa Inggerisnya. Sempurna. Demikian pula pacarnya yang semalam sebelumnya saya dengar mengantar dia. Bertahun-tahun kemudian, saya dengar dia telah melanglang buana hanya dengan bekal bahasanya itu.

Setelah menikah dan memiliki rumah sendiri, saya memiliki tetangga yang punya satu anak laki-laki yang berbobot besar. Dinding yang menyatu antara rumah saya dan rumah tetangga hingga ke lantai 2, membuat suara-suara dari rumah tetangga tidak sepenuhnya teredam. Sering sekali saya mendengar suara duk-duk-duk pada malam hari sekitar jam 9 hingga tengah malam dari rumah tetangga sebelah. Saya berpikir sambil lalu mengenai Rudy, anak tetangga yang berbobot berlebih itu, sedang naik tangga ke lantai 2 rumahnya. Kasihan sekali karena terdengar berat dan berlebih bobotnya.

Suatu saat, ketika sedang arisan, saya menyapa ibu tetangga sebelah dan secara iseng bertanya padanya, “Bu, Rudy kamarnya ada di atas ya?” Ibu tetangga sebelah yang ramah itu menjawab, “Tidak, Bu, kamar Rudy di bawah dan dia tidak pernah naik ke atas, kasihan sih, dia selalu kelelahan kalau harus turun naik tangga. Lagi pula, kamar diatas lebih sering kosong karena dijadikan kamar kerja bapak kalau sedang di rumah.” Jawaban ibu tetangga sebelah mencengangkan saya. Saya tahu bapak tetangga sebelah bekerja di luar negeri, artinya lantai atas lebih banyak kosong. Jadi duk-duk-duk yang saya dengar hampir setiap malam itu apa? Ketika saya dengan naifnya menceritakan kepada Ibu tetangga sebelah bahwa saya dengar suara-suara di tangga, beliau menjawab ringan, “Bu, di kolam air mancur di depan kamar saya juga ada… Yaa begitulah, makanya saya juga tidak mau tidur di atas. Pokoknya kalau sudah jam 7, kita semua ada di bawah, tidak ada lagi yang ke atas.” Padahal duk-duk-duk yang saya dengar itu selalu diatas jam 9 malam, dan  selama ini saya selalu berpikir bahwa Rudy sedang mau pipis atau mencari sesuatu untuk dimakan… Aiiih!

Iklan

Please... I'm glad to know your thoughts

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s