Ke Luar Negeri Pertama Kalinya…


Selalu ada waktu untuk pertama kali, apakah itu di awal, di tengah ataupun menjelang akhir hayat. Bagi saya, walaupun dibesarkan dalam keluarga yang hobbynya bepergian, hingga usia  tua ini, saya tidak pernah menginjakkan kaki yang namanya Luar Negeri. Seluruh destinasi perjalanan saya berada di dalam negeri Indonesia yang memang indah ini. Kadang, memang timbul hasrat untuk pergi keluar negeri, tetapi selalu saja ada prioritas lain yang lebih perlu dilakukan.

Tetapi akhirnya saatnya itu datang juga, tidak diundang, tidak diharapkan melainkan datang sendiri. Saya ditugaskan untuk melakukan studi banding ke Luar Negeri, seminggu di Singapore. Sebenarnya 4 hari kerja dari Senin hingga Kamis, karena kebetulan hari Jumat di minggu itu merupakan hari libur di Singapore… Jadi bukan salah saya, kalau saya memanfaatkannya ke Malaysia juga!

Yang menghebohkan adalah persiapannya.

Bukan saya, melainkan keluarga saya! Orangtua saya langsung memanggil agen yang biasa mengurus paspor. Alasannya supaya pekerjaan keseharian tidak terganggu. Waktu itu saya akui bahwa melalui mereka pekerjaannya lebih cepat selesai walaupun cukup menguras kantong. Hanya perlu datang sekali untuk urusan foto dan wawancara. Saat itu, bila mengurus sendiri, maka diperlukan kehadiran minimal 2 atau 3 kali bolak balik ke kantor imigrasi. Sangat tidak efisien, tidak termasuk dengan waktu tunggunya.  Ketika akhirnya paspor bersih berada dalam genggaman, hati saya berdesir, mata berkaca-kaca… Akhirnya saya punya juga… Setelah  puluhan tahun….

Kakak saya, yang biasa bepergian keluar negeri, heboh mengajarkan proses di bandara, sampai-sampai ia mengambil contoh kartu keberangkatan. Ia menekankan jangan lupa bawa bolpen! Daripada repot dan memalukan meminjam kiri kanan. Lalu ia menjelaskan saat check-in petugas akan memberikan boarding pass dan kartu keberangkatan/kedatangan. Kartu harus diisi lengkap dan benar. Keterangan diri sesuai paspor. Perjalanan sesuai dengan boarding pass. Bagian kedatangan harus diisi sesuai dengan penerbangan pulang/kembali. Kartu keberangkatan akan diambil oleh petugas imigrasi dan kartu bagian kedatangan tidak boleh hilang hingga pulang. Bagian ini harus diselipkan pada paspor supaya tidak hilang agar memudahkan pada saat kembali. Ia pun mengajarkan nanti di pesawat, pramugari akan membagikan kartu kedatangan Singapore dan harus diisi sesuai paspor dan perjalanan. Nama hotel dan alamat harus disertakan juga. Jangan lupa bayar fiscal (jaman itu keluar negeri harus bayar fiscal 1 juta) dan airport tax. Setelah semua selesai baru jalan menuju pemeriksaan imigrasi. Aduh! Rasa gembira akan pergi keluar negeri bercampur khawatir. Prosesnya njlimet amat sih!

Kemudian kakak saya juga menjelaskan bagaimana bersikap di pemeriksaan imigrasi. Antri, tunggu giliran dan berhenti tepat di belakang garis kuning. Jangan kampungan membuat gerombolan di depan counter petugas imigrasi. Dia bilang, lihat saja nanti, pasti ada orang yang tidak tahu aturan itu dan suka bergerombol di counter. Kakak saya juga mengatakan bersikap percaya diri saja ketika sedang diproses di counter. Mungkin ada pertanyaan, jawab saja dengan benar. Pastikan bahwa di paspor ada cap. Jika sudah diperiksa, maka selanjutnya sama, masuk ke ruang tunggu dan terbang.

Dan datang juga hari H-nya. Di bandara, saya bertemu kawan-kawan seperjalanan. Proses check-in berjalan normal. Tanpa meminjam bolpen kiri kanan, kartu keberangkatan dapat saya isi dengan baik, dan laksana orang yang sudah sering melakukan perjalanan ke luar negeri, saya membantu kawan-kawan bagaimana mengisi kartu tersebut. Hahaha… Proses pembayaran fiscal berjalan normal dan cepat (kalau sekarang tentunya bukan bayar tapi minta bebas fiscal). Ketika sampai pada pemeriksaan imigrasi, saya mengambil sikap pede seperti yang diajarkan. Benar, saya melihat ada orang yang menggerombol di counter dan diusir oleh petugas untuk antri. Saya tersenyum dalam hati. Hingga sekarang, saya masih sering memperhatikan hal ini dan selalu membuat senyum di hati. Proses yang saya alami ini normal, lagi-lagi ada perasaan sesak di dada ketika akhirnya lembar paspor saya yang tadinya bersih, sekarang sudah ada cap Soekarno-Hatta. Berangkaaaat…

Ketika penerbangan mendekati Singapore, benar, saya diberikan kartu kedatangan yang formatnya berbeda dengan kartu Indonesia. Saya mengisinya sesuai anjuran. Lagi-lagi bolpen diperlukan.

Pesawat mendarat mulus di Changi. Saya melongok kearah luar jendela. Perasaan itu membuncah lagi di dada. Ah, akhirnya… udara Singapore saya rasakan juga! Ah masih belum, di dalam pesawat ini masih bau udara Jakarta. Saya keluar pesawat dan merasakan empuknya karpet Changi. Aha! Inilah saya. Singapore here I come! Berbeda sekali dengan bandara di Indonesia. Saya berbuat norak dan kampungan, mencoba toilet yang modern dan geli sendiri mengetahui semua yang serba otomatis. Dengan berdiri, toilet itu langsung terguyur air. Saya pun sukses melewati imigrasi Singapore. Saya perhatikan wajah petugasnya, tanpa ekspresi tapi cepat dalam bekerja. Saya tahu, walaupun seakan tanpa ekspresi, mereka professional dalam mengenali wajah. Satu lagi cap dalam paspor saya! Keluar dari Changi, setelah sekian lama merayakan ulang tahun, akhirnya inilah tahunnya saya untuk mengalami yang pertama dalam hidup, perjalanan keluar negeri.

Di Singapore, seorang kawan menjemput dengan mobilnya. Mata saya jelalatan memperhatikan kehalusan jalan-jalan di Singapore, merk-merk mobil yang bersliweran, perempatan jalan, sikap, budaya orang-orang. Termasuk kebersihan jalan, budaya berkendara, bis, budaya mengantri, gedung-gedung tinggi dan lain-lain saya lahap dengan laparnya. Inilah saya yang kerdil dalam Negara Indonesia, dan saat ini diberikan anugerah merasakan Negara lain.

Empat hari kerja di Singapore dihabiskan dengan bekerja yang didukung kekuatan semangat (passion). Siang bekerja professional, malam menjelajah bumi Singapore. Hari kelima, Jumat, yang kebetulan libur, hingga  Minggunya  dimanfaatkan pergi ke Malaysia menggunakan kereta api ke Kuala Lumpur. Akhirnya saya menembus juga kukupan ini. Saya tahu inilah awal perjalanan luar biasa saya selanjutnya. Ini yang pertama dan pasti ada yang kedua, ketiga, keempat dan seterusnya. Saya telah menjadi kupu-kupu dan siap terbang kemana saja….

Iklan

6 pemikiran pada “Ke Luar Negeri Pertama Kalinya…

  1. Hallo,, beruntung sekali saya menemukan blog ini. Karena dalam waktu dekat saya harus ke LN dan ini pertama kali nya. Yang ingin saya tanyakan, mengenai kedatangan kembali, apakah kita harus meminta kartu imigrasi lagi kah di counter check in LN tersebut??
    Dan harus kah paspor kita dicap kembali?
    Mohon petunjuknya. Dan terima kasih 🙂

    Suka

    • Saat pergi, kita dikasih kartu keberangkatan dan disisi lainnya adalah kartu kedatangan. Setelah proses imigrasi, kartu keberangkatan akan dirobek dan diambil mereka dan kartu kedatangan akan dikasih kekita. Jangan sampai hilang. Biasanya saya simpan di slip belakang paspor. Yang paling kita minta dari pramugari di pesawat yang menuju balik ke Indonesia, adalah kartu customs declaration. Tetapi kalau kita ga perlu declare apa-apa, ya isi aja NO semua… kecuali yang harus dideclare yaa… biasanya di kartu itu tertulis apa-apa yang harus dideclare. kartu kedatangan dan customs declaration itu akan diambil di imigrasi pas masuk Indonesia. Aduh senangnya… Selamat jalan-jalan yaa…

      Suka

Please... I'm glad to know your thoughts

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s