Saingan Saya Laki-laki…


Heegh???
Ya memang, kata-kata itu terucap keluar dari bibir sobat saya dalam kesempatan makan siang beberapa waktu lalu. Walaupun setelah 10 tahun tidak bertemu, saya  mengetahui bahwa apa yang disampaikan itu bukanlah berita bohong.  Saingannya laki-laki!

Ini bukan masalah emansipasi yang diperjuangkan  para aktivis, juga bukan mengenai perjuangan di tempat kerja untuk mendapatkan jabatan atau posisi yang lebih menjanjikan. Bukannya ingin melakukan penghakiman dan differensiasi, ini adalah sebuah cerita dari hati seorang anak manusia mengenai kehidupan pasangannya yang tidak sejalan dengan yang umum terjadi  bagi manusia hidup di dunia ini, bahwa jika dia perempuan, maka pasangannya adalah laki-laki. Juga sebaliknya, bila dia laki-laki maka pasangannya adalah perempuan…

Sebagai seorang perempuan, sobat saya ini sama sekali tidak curiga, tidak ada ‘early warning’ sedikitpun. Ia berasumsi seperti layaknya perempuan-perempuan lainnya, bahwa pasangannya memiliki orientasi yang normal. Ia mengakui, ternyata ia berpandangan terlalu umum, bahwa laki-laki yang memiliki orientasi berbeda dari kebanyakan, hanya bisa terjadi pada orang-orang lain yang jauuuh, bukan di dekatnya, bukan disekitarnya. Dan hal ini yang membuat mimpinya, untuk mendapatkan seorang laki-laki yang akan menjadi imam dalam rumahtangganya, berantakan hancur berkeping-keping.

Bagaimana mungkin? Karena pasangan sobat saya ini memiliki posisi karir yang baik di sebuah perusahaan multi nasional, tingkat edukasinya juga tinggi. Berasal dari keluarga menengah yang normal.  Saya percaya laki-laki itu lumayan menarik. Ya, seperti laki-laki lainnya, dengan kekurangan dan kelebihan jika melihat fisiknya. Walaupun saya tidak mau mengetahui urusan yang lebih private, sobat saya ini meyakini bahwa sebelum ia mengetahui, pasangannya adalah laki-laki yang normal, yang tergila-gila pada perempuan cantik, seksi, berpengetahuan luas. Cukup lama mereka saling mencoba mengenal, mungkin sekitar lima tahun dengan rencana seharusnya tahun ini menjadi tahun pernikahan.

Tadinya ia menyalahkan kondisi ‘long distance relationship’ yang menjadi penyebabnya, walaupun pada akhirnya ia mengenyampingkan hal itu. Baginya, jika memang harus terjadi, maka hal itu akan terjadi juga, dimana pun, tidak perlu berjauhan lokasi, melainkan di dalam satu rumahpun bisa terjadi.

Sobat saya beranggapan, seperti kebanyakan perempuan lainnya, bila laki-laki ‘hang-out’ dengan kelompoknya, ya mereka akan ‘jalan’ secara normal. Kalaupun ada kenakalan, paling-paling itu kenakalan laki-laki yang umum terjadi. Mungkin masih bisa dihadapi…

Tampaknya sobat saya ini menyadari bahwa pasangannya terjerembab langkah, ada godaan, berawal dari keisengan, ada kesempatan dan terjadilah… kemudian menjadi sebuah kecanduan. Mungkin seperti narkoba, atau barang-barang haram lainnya…

Dan sejak Desember tahun lalu, sobat saya ini memulai jalan hidupnya yang tidak biasa, diteror oleh orang yang memiliki rasa cemburu berlebih, yang tidak segan mendatangi kantornya, memperlihatkan senjata tajam, mengikuti keseharian sobat saya kemanapun perginya, meneror dengan menggunakan berbagai nomor ponsel, hanya untuk memastikan sobat saya ini tidak menghubungi atau menemui pasangannya lagi.

Ketika sobat saya ini mendapat sebuah sms aneh berisikan permintaan maaf sekaligus ungkapan cinta, sobat saya mengenali bahasanya. Ia tahu bahwa si pengirim adalah adalah pasangannya, entah bagaimana caranya ia mengirimkan tanpa ketahuan. Sobat saya hanya bisa berdoa tanpa berharap. Ia mengatakan dengan datar, jika ini memang cobaan untuknya, jika memang laki-laki itu jodohnya, maka jodohnya akan dikembalikan.

Tetapi dengan muka sedih setengah putus asa ia mengatakan, jika saja saingannya perempuan, mungkin ia bisa hadapi karena ia memahami dunia perempuan. Saingan dari dunia perempuan saja sudah berlimpah, janganlah ditambah dengan dunia yang satunya lagi. Ia tidak mengenal dunia saingannya ini, sobat saya ini tidak tahu harus bagaimana. Ia tidak pernah mengenal atau mengetahui orang yang sembuh dan kembali normal.  Yang jelas, sampai saat ini ia belum mampu menerimanya kembali. Bayangan kebersamaan sepasang laki-laki itu tetap menghantuinya. Ia juga mengatakan, dengan datarnya bukankah sekarang bukan jamannya Nabi Luth? Atau tanda perubahan jaman…?

Semoga kedamaian selalu memenuhi sanubari kita semua…

Iklan

4 pemikiran pada “Saingan Saya Laki-laki…

  1. mbak… bener banget… aku juga mengira itu hanya terjadi pada orang-orang yang jaaauhhhh dan ngga menima orang-orang di dekatku… but it happens… now.. not only one, but three man… Suddenly I don’t understand this world..

    Disukai oleh 1 orang

Please... I'm glad to know your thoughts

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s