Hadiah Cinta di Kuta Bali


Howdy? Masih tetap baik kan hari ini? Ya, lagi-lagi rasa syukur kita limpahkan kepada Sang Pemilik Alam, atas seluruh berkah yang sudah kita dapatkan hingga kini… Kita ketemu lagi di sini dan kali ini saya ingin cerita sedikit ketika berada di Bali…

 

Saya menyusuri jalan Poppies 2 menuju pantai, dan bertemu banyak wisatawan dengan pakaian khas pantai, celana pendek dan kaos. Kaki saya melangkah terus hingga mencapai pasir Pantai Kuta. Inilah Kuta di sore hari menjelang sunset. Penuhnya luar biasa.

Tak ada tikar, tas seadanya pun bisa jadi alas duduk. Tidak apa-apalah sedikit kotor, yang penting pemandangan cantik matahari tenggelam langsung terhampar di hadapan. Baru saja mulai mengamati keadaan sekitar, ponsel saya berdering dan harus terlibat dalam komunikasi itu selama 10 menit. Dan saat itulah serangan mulai terjadi….

Salah seorang dari mereka, seorang ibu, mendatangi saya dan tidak seperti lainnya, dia tidak mau pergi hanya karena melihat saya sedang menelepon. Ia hanya duduk bersimpuh di hadapan dan saya tidak menggubrisnya. Saya sudah mengangkat tangan sebagai tanda tidak berkenan, tetapi dia tetap di tempatnya. Oleh karena saya harus berfokus pada lawan bicara di telepon, sungguh saat itu dia harus terabaikan. Menjelang akhir pembicaraan, karena dia masih ada di hadapan, saya mengerti saya sedang maju ke pertandingan cinta.

Ibu itu memegang kaki saya lalu setengah memaksa menggosok dan memijat. Tahu bahwa ada harga atas jasa itu, sambil menarik kaki, saya berusaha bernegosiasi dengannya tanpa menaikkan nada suara. Saya percaya dengan aturan jual beli bahwa kedua belah pihak harus sepakat sebelum melakukan proses pekerjaannya. Tetapi ia tidak menyerah, setengah memaksa ia menggulung jeans yang saya kenakan agar ia bisa bekerja, dan lucunya, saya juga setengah memaksa menolaknya jika ia tidak menyetujui bayaran saya. Agak terpaksa ia menyetujuinya, tetapi saya mendengar. Itu yang penting.

Bersamaan dengan persetujuan yang agak terpaksa itu, seorang ibu lain datang menawarkan gelang-gelang. Saya menolaknya, namun ibu penjual gelang itu memaksa dan menurunkan harganya sambil memperlihatkan dagangannya langsung ke pangkuan saya. Secara baik, gelang-gelang itu saya kembalikan padanya yang dibalas dengan setengah mengomel. Dia mengatakan, bahwa ia lebih dahulu datang pada saya, ia memberi ruang privasi pada saya karena dilihatnya saya sedang telepon, ditambah karena ia membaca tanda penolakan tangan saya.

Tidak puas mengomel pada saya, iapun mengomel kepada ibu pemijat dalam bahasa Bali. Ia menyalahkan ibu pemijat karena telah menyalipnya padahal pelanggannya tidak berkenan. Mungkin dikalangan mereka, si ibu pemijat telah melanggar etika tak tertulis antara mereka. Si ibu pemijat berkeras bahwa ia tidak mengganggu pelanggan, ia hanya duduk dan menawarkan setelah teleponnya selesai. Tidak terima alasannya, ibu pembawa gelang menaikkan nada suaranya hingga mereka terlibat pertengkaran di hadapan saya. Masalah harga pijat juga dipermasalahkan. Menurut ibu pembawa gelang, harga itu terlalu mahal. Dianggapnya ibu pemijat telah menipu tamu.

Tidak mengerti dengan bahasanya dan juga karena volume yang semakin tinggi, namun saya paham mereka bertengkar hebat, saya menutup kedua telinga dengan tangan. Aduh, bagaimana ini? Mengapa saya ada di tengah pertengkaran hebat? Saya ingin melihat sunset, mengapa begini?

Dengan dua tangan yang menutup telinga, saya memperhatikan dua orang ibu yang bertengkar itu. Rasanya ingin melarikan diri dari arena ini, tidak mempedulikan mereka. Tetapi entah kenapa, ada suara dari dalam yang minta saya melerai. Saya memenangkan suara itu. Kekuatan itu memberi tenaga. Dengan penuh rasa kasih, saya memegang tangan-tangan mereka dan mengatakan dengan nada cinta, bahwa tidak baik saling bertengkar memperebutkan rejeki. Rejeki itu sudah diatur. Jangan iri dengan rejeki yang didapat orang lain, Saya jelaskan kepada ibu pembawa gelang, bahwa ibu pemijat tidak mengganggu saya, ia hanya duduk menunggu. Menunggu yang mungkin cukup lama, tetapi ia menunggu dengan diam dan setelah saya selesai, ia baru menawarkan jasanya. Bukankah ia memanfaatkan kesempatan emasnya untuk meraih pelanggan? Dan kepada ibu pembawa gelang, saya menjelaskan dengan sepenuh kasih untuk menenangkan hati, jangan dikuasai amarah dan rasa iri. Saya tahu saya mampu menangani situasi karena ibu pembawa gelang lirih mengakui bahwa ia tidak marah pada saya, dia hanya marah pada ibu pemijat. Dengan berhias senyum saya jelaskan kembali mengapa ibu pemijat tadi bisa mendapatkan pelanggan sementara ia meninggalkan sebuah peluang. Saya mengungkapkan bagaimana cara menjemput rejeki dengan keindahan, dan melepas sebuah peluang dengan keikhlasan. Sungguh rejeki itu berjalan dengan penuh keteraturan.

Selagi saya bicara pada mereka berdua, entah kekuatan apa yang membuatnya, tetapi satu per satu ibu-ibu pedagang datang menghampiri, duduk dan mendengarkan apa yang saya sampaikan. Mereka meletakkan barang dagangannya dan duduk diam. Serasa ada kekuatan dari dalam untuk terus berkata-kata dengan lembut terhadap mereka, mencintai mereka. Saya juga menitip pesan agar berbaikhati kepada para turis yang datang, perlakukan dengan kesantunan dan penuh senyum, karena melalui mereka-lah rejeki itu akan hadir. Mereka juga bisa membuat rejeki untuk kita tertunda, karena perlakuan kita yang buruk terhadap mereka. Yang Maha Pengasih telah mengatur rejeki untuk kita semua, kita berupaya untuk mendapatkannya. Kalau kita berbuat baik kepada banyak orang, rejeki akan mudah mengalir. Dengan berbuat keburukan, tidak saja kita menyakiti lingkungan, rejeki pun akan tertunda. Jangan saling berebut rejeki dan bertengkar karena keburukan itu berbalik arah menuju diri sendiri. Saya memegang tangan-tangan mereka yang berbalut baju sederhana sambil mengatakan kepada mereka bahwa aku mendoakan agar ibu-ibu bisa mendapatkan rejeki yang baik pada hari ini dan hari-hari selanjutnya. Saya untaikan doa-doa keselamatan untuk setiap jiwa ibu yang saya pegang tangannya saat itu, untuk menjual barang dagangannya kepada kerumunan turis yang lain.

Para ibu pedagang itu meninggalkan saya dalam kesendirian sesaat sebelum matahari tenggelam. Sungguh saya merasa mendapat energi berlimpah dari Yang Maha Kuasa atas apa yang telah tersampaikan kepada mereka, pada jiwa-jiwa sederhana yang memilih untuk tetap tersenyum dalam menjemput rejeki; dan atas apa yang sedang saya saksikan di hadapan. Keajaiban alam, Matahari tenggelam di Pantai Kuta tanpa awan yang menghalangi. Sungguh Sempurna, saya menyaksikan KeagunganMu!

Saya mendapat hadiah cinta, sekaligus merasa sedang dicuci habis-habisan olehNya secara langsung. Tanpa dapat ditahan, airmata ini jatuh berlinang tak terbendung. Dada ini terasa sesak, rasanya tak sanggup menerima keharuan ini. Seandainya saja, saya bisa melakukan lebih untuk mereka, para ibu yang berjuang untuk keluarga dan anak-anaknya. Saya mampu merengkuh jiwa-jiwa mereka, menyentuhnya dan membiarkan diri menjadi media kebaikan untuk mereka dari Yang Maha Kuasa. Saya juga menjadi saksi saat alam memberikan keindahannya. Alam yang harus tetap dijaga. Dan semua itu kembali kepada saya laksana air bah keharuan, tumpah ruah. Sebuah pembelajaran yang sangat berharga bahwa dengan hal yang terlihat sederhana, kita bisa mendapatkan kebahagiaan yang luar biasa.

Inilah bentuk hadiah langsung dari Yang Maha Kasih. Segala sesuatu telah diaturNya dengan sangat rinci penuh keindahan. Bahwa kita bisa melakukan banyak hal untuk orang lain dari hal-hal yang kelihatannya sangat sederhana. Bahwa mungkin diantara kita menginginkan bentuk kebahagiaan yang lain, tetapi Yang Maha Memberi melimpahkannya dalam format yang berbeda dan sangat tepat. Kita hanya tinggal menyesuaikan jiwa untuk berserah diri secara total.

Iklan

Satu pemikiran pada “Hadiah Cinta di Kuta Bali

Please... I'm glad to know your thoughts

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s