On the Weekend: Breakfast in Bangkok, Lunch in Singapore and Dinner in Jakarta


Hai… Apa kabar? Luar biasa kan… Ya, kita tetap harus bersyukur kepadaNya atas semua berkah yang telah kita terima hingga saat ini. Semoga kita semua senantiasa dalam perlindungan, dalam kondisi sehat sejahtera penuh kebahagiaan. Amiiin.

Kali ini saya mau cerita, dan jika membaca judulnya… hmmmm… Gaya amat ya, dalam sehari ada di 3 negara sekaligus… Akhir pekan lagi! Seperti sudah jadi Milyuner saja…

Rupanya kegilaan jalan-jalan herediter itu ada pada diri saya ketika  mendapat tugas ke Batam selama 3 hari. Memang sebelum berangkat, selintas ada rencana untuk menyeberang ke Singapore.  Maka dari itu saya pergi dengan membawa paspor. Walaupun bisa tidaknya itu tergantung situasi akhir di lokasi kerja. Jika memungkinkan, paling tidak saya bisa berkeliling lagi di Singapore, begitu pikiran berkelana.

Hari terakhir penugasan, ternyata teman-teman lain langsung kembali ke Jakarta dan tinggal saya sendirian di Batam. What? Sendirian di Batam? No way! Lebih baik menyeberang ke Singapore dan merealisasikan rencana. Tapi Singapore? Terbayang langsung, kaki gempor karena jalan kaki di kota Singa itu dari Merlion Park ke Bugis Junction lewat The Padang, Art Museum, batal ke Orchard Road,  balik menuju Bugis Junction menyusuri Bencoolen street. Lagipula Singapore cukup mahal untuk akhir pekan. Lalu kemana?

Istirahat siang pada hari terakhir itu, saya sempatkan berselancar di web  dan menemukan pilihan ke Bangkok. So, apalagi yang ditunggu. Saya belum pernah ke Bangkok.  Jadilah  pesan tiket pulang pergi Singapore – Bangkok. 1 hari saja, persis orang kaya! Weekend di Bangkok! Urusan transportasi selesai, bagaimana dengan hotel? Akhirnya setelah googling dan menimbang-nimbang, aku dapat hotel di daerah Sukhumvit dan dekat dengan stasiun BTS dan MRT. Horee.. Bangkok, here I come!

Saya mengambil sikap PD sesampainya di Batam Center, tempat ferry. Ini perjalanan pertama ke Singapore naik ferry. Seumur-umur naik ferry ya, ferry ke Bali, Lombok, Madura atau  Lampung. Dalam bayangan, yang namanya ferry itu ya sebesar kapal ferry Jawa Sumatera atau Jawa Bali itu yang penuh mobil, truk, motor. Jadi saya sangat error dan mengernyitkan dahi ketika melihat kapal ferry ke Singapore. Kecil amat… Ini sih, bukan kapal ferry, ini seperti kapal penyeberangan ke Pulau Seribu. Tapi ya, sudah, jalani saja semua kejutan… Ini serunya sebuah perjalanan tanpa rencana.

Perjalanan selama 45 menit itu ditempuh dengan cukup nyaman, ternyata luas juga di dalamnya, ada puluhan orang. Enaknya perjalanan pagi, karena bisa dibilang tidak ada ombak. Ketika sudah mendekati pulau Sentosa, teman saya menelepon sudah menunggu di Harbour Front. Hmm… Beruntungnya saya punya teman di Singapore yang bersedia mengantar dari Harbour Front ke Changi, pada Sabtu pagi! Katanya ia sekalian ke bengkel… Wah, rejeki memang tidak kemana-mana…

Imigrasi Singapore lancar, selancar lalu lintas Singapore di Sabtu pagi. Kosong! Teman saya terkaget-kaget ketika mengetahui akan ke Bangkok sendirian, dan perjalanan pertama pula. Saya katakan bahwa saya terbiasa melakukan perjalanan sendiri. Melihat kesungguhan pada wajah saya, ia memberi informasi yang melegakan, bahwa Bangkok relative aman untuk perempuan. Bahkan ia memberitahu tempat-tempat di Bangkok yang harus dikunjungi perempuan. MBK! Hmmm… Kali ini dia salah, bagi saya MBK tidak perlu didatangi, karena walaupun saya perempuan, saya tidak suka belanja. Sampai di Terminal 1 dan karena saya tahu ia lebih mencintai urusan mobilnya daripada berlama-lama ngobrol dengan saya, tak perlulah mengajaknya mampir minum Kopi Tiam yang enak itu. Sama-sama senang dan jadilah saya terdampar pagi-pagi di Changi.

Tidak lama kemudian, saya sudah berada dalam pesawat terbang ke Bangkok. Mendengar bahasa-bahasa Thai dalam pesawat. Termasuk seorang kakek yang membungkukkan badannya sambil meminta maaf dalam bahasa Thai, karena tasnya yang ada di kabin atas, ketika tergesa-gesa dibuka, jatuh menimpa kepala saya. Sambil memegang kepala yang agak sakit, saya hanya mengangguk tersenyum… Berkah kejatuhan tas bukan durian…

Sampai di Bangkok, kesan pertama adalah kusam, karena saat itu pesawat internasional dan domestik masih mendarat di Don Muang. Cengkareng kita jauh lebih bagus. Mengiringi rasa syukur telah sampai dengan selamat di Bangkok, saya menelepon si teman Singapore. Lagi-lagi dia membalas, bahwa berkunjunglah ke MBK, itu surganya perempuan. Duh, disangkanya saya perempuan kebanyakan….

Memasuki kota Bangkok, saya terkagum-kagum dengan jalan-jalan di Bangkok, yang katanya tidak pernah bisa bebas macet. Tetapi mungkin karena hari Sabtu, maka jalan-jalan lebih lengang. Juga pemandangan Hotel Baiyoke yang tertinggi di Bangkok. Setelah mengambil foto kiri kanan, sampai juga aku di hotel. Ternyata nyaman dan letaknya sangat strategis, karena di dekat stasiun BTS dan MRT. Tidak mau membuang waktu, setelah makan siang dan mulailah saya menjelajah kota.

Reclining Buddha

Kunjungan pertama adalah Wat Pho, tempat Patung Buddha Tidur dalam ukuran raksasa. Dan saya menandai, bahwa saya harus kesini lagi bersama keluarga. Aku berlama-lama di Wat Pho menikmati semua detailnya. Harus rasakan pijat Wat Pho yang terkenal ini, nyaman sekali. Lalu saya mengunjungi juga menikmati Wat Arun, kuil yang terletak di sisi seberang sungai Chao Praya. Wat Arun ini tampak bagus di waktu matahari terbit, sehingga dijuluki dengan Temple of Dawn. Tetapi  keindahannya juga terasa pada situasi Petang. Langit kuning memerah sebagai latar belakang Wat Arun, yang saya ambil dari sungai Chao Praya, sebuah sungai yang membelah Bangkok dan dimanfaatkan sebagai transportasi air.

Sepanjang hari, saya mencoba semua transportasi kota, baik BTS yaitu monorail diatas tanah, maupun MRT yang berada di bawah tanah. Ketika naik BTS atau MRT, saya bertanya dalam hati, kenapa Jakarta tidak mampu membuatnya? Tapi saya sadar juga apakah masyarakat kita sanggup memeliharanya? BTS maupun MRT Bangkok bersih. Penduduk Bangkok disiplin untuk tidak makan minum dalam kereta dan tidak melakukan keisengan. Semua menjaga sebagai salah satu aspek penting pariwisata.

Walaupun pergi sendiri, waktu terasa cepat sekali. Malam datang dan saya harus menentukan mau kemana? Tujuan malam hari adalah ke Suan Lum Night Bazaar dan membuat kaki kram lagi, karena  laksana pasar Malioboro Yogya, saya blusuk-blusuk ke dalam setiap lorongnya. Banyak barang kerajinan dari Indonesia yang ditawarkan dan tentunya menimbulkan rasa bangga di hati ini. Maju Indonesiaku…

Ketika makan malam, saya mengamati penghuni kota Bangkok. Harus diakui, bahwa atmosfir Bangkok lebih dekat dengan Bali dibandingkan Jakarta. Penduduk Bangkok sudah lebih menjiwai kepariwisataan. Ada rasa nyaman, ada rasa welcome, dengan senyum yang selalu menghias di bibir, ada banyak kemudahan, ada alternative solusi terhadap kendala bahasa Inggris mereka (dengan menghubungi orang lokal sebagai translator), minimal itu yang  saya rasakan. Kesan pertama yang cantik dari Bangkok. Bisa jadi kota favorit…

Tidak sadar berkeliling di Suan Lum Night Bazaar hingga tengah malam, membuat saya harus berlari mengejar kereta MRT terakhir untuk kembali ke hotel. Keluar dari stasiun MRT bawah tanah, saya muncul di sebuah mall kecil. Lagi-lagi  merasa beruntung, tidak ada yang mengganggu, tidak ada pandangan iseng. Ada rasa aman, apalagi sempat bertemu dengan dua polisi yang sedang berpatroli. Disitulah saya merasa bahwa Bangkok benar-benar aman untuk perempuan.

Kembali ke Hotel, hanya ada satu masalah yaitu masalah tidur. Saya ini penakut kalau harus tidur sendirian. Terpaksa, TV menyala semalaman untuk menciptakan situasi tidak sendiri. Untungnya,  TV satelitnya sedang siaran lagu-lagu MTV Indonesia. Wah, dengar suara Indonesia di negara orang, enak sekali rasanya. Hore, ada yang menemani…

Pagi, setelah sarapan, saya kembali ke bandara. Untunglah saya sampai lebih awal, antrian imigrasi di Bangkok seperti ular melingkar. Melelahkan sekali. Perjalanan pulang biasanya lebih cepat karena diisi dengan tidur dan rasa tidak peduli lagi. Saya tiba di Singapore menjelang makan siang, kali ini saya tidak menelepon si teman itu. Saya hanya menghabiskan waktu dengan berselancar di internet gratis yang tersedia di Changi, berkeliling toko melihat-lihat dan mundur teratur ketika melihat harganya, tetapi bagaimanapun aku harus makan siang di Changi, yang membuat kantong jadi ‘bolong’.  Ketika jamnya sampai, aku kembali menggunakan ferry kecil itu untuk sampai ke Batam dan langsung ke Bandara Hang Nadim untuk kembali ke Jakarta dengan Garuda. Hari Minggu itu, benar-benar terjadi, saya sarapan di Bangkok, makan siang di Singapore dan makan malam di Jakarta, karena aku melewatkan akhir pekan di Bangkok! Asyik sekali…

Ternyata become a solo traveler is always interesting. Tertarik mencoba? Yuk…

Iklan

Satu pemikiran pada “On the Weekend: Breakfast in Bangkok, Lunch in Singapore and Dinner in Jakarta

Please... I'm glad to know your thoughts

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s